Batan Kembangkan Plastik Ramah Lingkungan
https://satunusantaranews.blogspot.com/2016/03/batan-kembangkan-plastik-ramah.html
Jakarta
(satunusantara) Hampir sebagian besar sampah di ibukota
merupakan plastik yang sulit terurai hingga ratusan tahun. Karena itu
pemerintah lewat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan
kebijakan kantong plastik berbayar. Menjawab kebutuhan itu Badan Tenaga Atom Nasional
(BATAN) kembangkan plastik ramah lingkungan, memanfaatkan nuklir.
Menurut penuturan Dirjen
Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, KLHK, lebih dari sejuta kantong plastik digunakan
setiap menit dan hanya sekitar 50 persen yang digunakan sekali pakai lalu
menjadi sampah. Dari total plastik itu, hanya sekitar 5 persen yang dilakukan
daur ulang. Indonesia menduduki peringkat terbesar kedua penghasil sampah plastik
setelah Tiongkok yang dibuang ke laut. Sampah itu bisa membunuh sekitar 10 ribu
biota laut karena dianggap sebagai makanan.
Berdasarkan data Asosiasi
Pengusaha Ritel Indonesia ( Aprindo), penggunaan kantong plastik mencapai sekitar
300 lembar perhari per gerai/toko. Jumlah gerai seluruh Indonesia mencapai 90
ribu, yang artinya menghasilkan 9,85 miliar lembar kantong plastik bersifat
bahan berbahaya dan beracun (B3) di dalam tanah dan sangat sulit terurai
bakteri (mikroorganisme).
Menurt ahli sampah Jerman
Benjamin Bongardt, plastik baru bisa terurai setelah berada di dalam tanah
kurang lebih 450 tahun. Sulitnya plastik terurai disebabkan material plastik
terbuat dari minyak bumi yang memiliki ikatan antarmolekul sangat kuta, tidak
mengandung gugus molekul yang disukai bakteri, dan hidropobik (tidak suka air),
sehingga bakteri sulit mengurai atau memakan molekul plastik. Apabila kondisi
itu tidak diatasi maka permasalahan lingkungan akibat sampah plastik akan
semakin besar.
Mengubah gaya hidup melarang
penggunaan plastik mungkin sulit, meski dikenakan plastik berbayar tak akan
banyak berpengaruh mengendalikan penggunaan plastik. Karena itu, perlu solusi
yang tepat untuk menyelesaikan masalah tanpa harus mengubah kebiasaan
menggunakan kantong plastik, yaitu membuat produk plastik ramah lingkungan.
Teknologi nuklir dapat
menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi penggunaan plastik konvensional. Radiasi
gamma dan berkas electron dapat digunakan untuk membuat bahan baku pembuatan plastik
(biji plastik) dari bahan kopolimer yang mudah diurai oleh alam dalam waktu
yang sangat singkat. Proses penyinaran radiasi terhadap bahan plastik tidak
akan mengakibatkan bahan yang disinari menjadi radioaktif sehingga aman bagi penggunanya.
Sifat lainnya hampir sama
dengan bahan plastik konvensional, yaitu mudah dibentuk, diwarnai, dan dapat
digunakan bukan hanya dalam bentuk kantong plastik tapi juga bisa digunakan
untuk pembuatan vas bunga, pot, produk hiasan, piring, gelas, dan lainnya.
Kepala Badan Tenaga Atom
Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, pihaknya selalu menegaskan
bahwa nuklir untuk kesejahteraan bahkan membantu bagaimana mengatasi masalah
lingkungan. Termasuk yang saat ini jadi tren, menghindari penggunaan kantong plastik
dalam berbelanja.
Produk teknologi plastik ramah
lingkungan dikembangkan Pusat Aplikasi
Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN dengan menggunakan komposit limbah tapioka. Prosesnya
dimulai dengan membuat biji plastik dengan berbasis limbah tapioka dan beberapa
bahan polimer lainnya agar mudah terurai secara alami. Selanjut bahan itu
diproses menjadi kopolimer dengan menggunakan teknologi radiasi.
Penyinaran radiasi gamma
memerlukan waktu sekitar 2-3 jam dengan dosis 10 kilo Gray. Apabla tak
menggunakan radiasi maka proses pembentukan kopolimer memerlukan suhu 60
derajat celcius, yang berarti memerlukan energi listrik dalam jumlah besar. Keunggulan
lainnya plastik ramah lingkungan adalah proses pembuatannya relative cepat dan
produk yang dihasilkan bisa terurai dalam tanah sekitar 2-6 bulan.
“Teknologi plastik yang
mudah diurai sudah dikembangkan BATAN sekitar 15 tahun lalu. Jadi nuklir bisa
menolong manusia, tidak selalu membahayakan”, pungkasnya.
BATAN sendiri bekerjasama
dengan PT Sarana Tunggal Optima untuk mengoptimalkan teknologi radiasi untuk
memproduksi plastik ramah lingkungan untuk ditingkat pada skala industry. Penggunaan
plastik ramah lingkungan dapat menjadi solusi tepat mengatasi limbah plastik
konvensional yang jumlahnya terus meningkat.linda.





