HUT Ke-70 TNI AU, Lahir dari Kerelaan Berkorban Tanpa Pamrih
https://satunusantaranews.blogspot.com/2016/04/hut-ke-70-tni-au-lahir-dari-kerelaan.html
Jakarta
(satunusantara) Modal awal kelahiran Angkatan Udara adalah
semangat juang dan kerelaan berkorban tanpa pamrih. Dengan peralatan dan
alutsista yang sederhana TNI AU mampu berkiprah sebagai kekuatan perjuangan
bangsa demi terciptanya kedaulatan bangsa. Demikian menurut Kasau Marsekal TNI
Agus Supriatna saat peringatan hari jadi ke-70 TNI AU, di Halim Perdana Kusuma,
Jakarta.
Peringatan hari jadi TNI AU
bertema, “Dilandasi moralitas, integritas, profesionalitas dan militansi, TNI
Angkatan Udara siap mengamankan wilayah dirgantara dalam rangka penegakan
kedaulatan dan keutuhan NKRI”.
Tanggal 9 April merupakan
momen historis paling membanggakan, karena awal keberadaan TNI AU di nusantara,
lahir dari hasil perjuangan bersama komponen bangsa lainnya dalam meraih
kemerdekaan, menjaga sekaligus menegakkan kedaulatan NKRI.
Dikatakan. Dimensi kedirgantaraan
yang menjadi ruang pengabdian TNI AU, akan terus berkembang dengan spektrum yang
semakin cepat, luas dan signifikan. Saat ini wilayah udara bukan lagi lahan
kosong yang tidak lagi bermakna, tapi menjadi bagian wlayah yang menentukan
bagi kedaulatan negara, kepentingan nasional dan kelangsungan hidup suatu
bangsa.
“Hal itu mengandung arti
bahwa, pemanfaatan dan penggunaan ruang udara merupakan sebuah kebutuhan mutlak
bagi tercapainya kepentingan suatu negara. Demikian pula denan Indonesia”,
tandas Kasau selaku inspektur upacara.
Sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia, satu pertiganya adalah daratan, dan dua pertiganya adalah
lautan. Semua itu jarang dipahami secara utuh bahwa, luas wilayah yang dimiliki
Indonesia tiga pertiganya adalah udara. Maka kekuatan udara menjadi penting
yang harus dikelola bersama, agar mampu mengontrol seluruh ruang udara
nasional. Untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, secara mutlak
perlu didukung oleh kekuatan udara yang kapabel.
Mengutip pernyataan Presiden
pertama Soekarno pada April 1955 mengatakan, kuasai udara untuk melaksanakan
kehendak nasional, karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang
menentukan dalam perang modern.
Hal itu mengisyaratkan,
perang di masa depan tak lepas dari kekuatan udara, air supremacy menjadi faktor
penentu dalam memenangkan perang. Namun diperlukan kesinambungan kerjasama
antar matra melalui cara multi domain integration.
Guna menyiapkan AU yang
powerful dan bersinergi dalam multi-domain integration diperlukan pengawakan
organisasi yang mampu menghadapi cyber war dan space war. Perkembangan iptek
menjadikan alutsista udara rentan terhadap ancaman cyber warfare dan cyber
defence, sehingga AU harus melengkapi kemampuannya untuk beradaptasi dalam
semua level peperangan masa depan yang memadukan domain darat, laut, udara, dan
cyber serta space.apr/foto:linda.





