Dari Penjaga Toko Jadi Pengusaha Mochi
https://satunusantaranews.blogspot.com/2015/08/dari-penjaga-toko-jadi-pengusaha-mochi.html
Jakarta (SatuNusantara)- Makanan tradisional jika diolah dan dikemas dengan baik bukan saja menjadi kudapan yang mengasyikan tapi juga buat oleh-oleh yang layak dipersembahkan buat orang-orang tercinta. Mochi dikenal sebagai kue tradisional Jepang, namun sebenarnya kudapan itu berasal dari Taiwan. Panganan berbahan dasar beras ketan itu, beberapa tahun belakangan menjadi camilan yang populer, tengok saja hampir di seluruh mal di Jakarta ada outlet panganan tersebut.
Diantara sekian banyak pemilik outlet mochi ada seorang yang layak menjadi contoh buat mereka yang ingin berusaha. Ia memiliki tiga gerai di beberapa pusat perbelanjaan, salah satunya di Mal Daan Mogot, di kawasan hunian Daan Mogot Baru.
Rudiyanto Indra (34) biasa disapa Atet tergolong pengusaha mochi yang sukses dengan modal keahlian, pengalaman dan dukungan isteri. Kini ia memiliki rumah, kendaraan pribadi, serta mampu mengaji 20 karyawannya, sebelumnya ia hanya pegawai toko material.

Perjalanan menuju kesana bukan terbilang mulus, Atet harus jatuh bangun dan mendapat tentangan dari keluarga besarnya ketika hendak memulai menjalankan usaha. “Jual mochi buat apa, memang bisa kasih makan keluarga jualan itu. Satunya aja cuma tigaribu, mau makan apa kamu”, papar Atet meniru ucapan orangtuanya yang menentang ia membuka usaha mochi.
Kata-kata itu mengena, Atet pun mengurungkan niat membuka usaha seusai ia pulang dari Taiwan. Sebelumnya Atet pernah belajar bahasa Mandarin karena masalah finansial ia berhenti ditengah jalan dan bekerja di toko pembuat mochi disana.
Akhirnya Atet bekerja di toko material di kawasan Tangerang selama dua tahun sejak pulang dari Taiwan. Mungkin Tuhan punya rencana lain, toko bangunan itu pun tutup padahal ia membutuh dana untuk persalinan isterinya yang tengah mengandung anak pertamanya.
Suatu ketika Desi ngidam “nasi campur”, dengan uang sisa hasil bekerja di toko itu Atet memenuhi keinginan isterinya. Saat menyantap apa yang diinginkan, Desi berlinang airmata dan mengatakan, “masakan ga enak gini, koq berani ya orang jual”.
Mendengar ucapan isterinya Atet ingat dengan niatnya membuka usaha, mulai ia mencari bahan-bahan pembuat mochi sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya saat di Taiwan. Dari situlah ia memulai usahanya sejak 2009 sampai saat ini, dan kini di 3 outletnya ada 13 macam isi mochi dari sebelumnya hanya tiga jenis. Nah jadi, jangan pernah abaikan kemampuan yang kita miliki, manfaatkan niscaya itu akan membuahkan hasil. (apr/foto ist



