Percakapan 'Seni' Entang Wiharso dan Sally Smart
https://satunusantaranews.blogspot.com/2016/01/percakapan-seni-entang-wiharso-dan.html
Jakarta (satunusantara) Galeri Nasional
Indonesia dan Galeri Canna mempersembahkan Conversation: Endless Acts in Human
History – pameran Seniman dari Indonesia Entang Wiharso (b. 1967) dan seniman
dari Australia Sally Smart (b. 1960). Pameran ini resmi dibuka pada 14 Januari
2016 dan berlangsung hingga 1 Februari 2016.
Conversation: Endless
Acts in Human History merupakan kolaborasi unik antara dua seniman, yang
bertemu di Melbourne pada tahun 2012 yang kemudian menjadi teman dekat sejak
itu. Setelah berhasil dengan karyanya masing-masing, untuk pertama kalinya
Wiharso dan Smart bekerja sama dalam pameran skala besar seperti ini. Berdialog
untuk mengupas masing-masing karya dari Wiharso dan Smart, Conversation
menghargai kehebatan sinergi dan perbedaan budaya dalam karya mereka.
Dipamerkan di ruang utama Galeri Nasional Indonesia, Conversation akan
menampilkan seni patung, lukisan dan instalasi yang kuat dengan metodologi
teknik yang bervariasi, juga dengan karya yang berhasil menghantarkan
kesuksesan karir Wiharso dan Smart.
Conversation: Endless
Acts in Human History dengan dialog dan diplomasi sebagai sistem yang saling
berhubungan, telah diproduksi dan direproduksinya aspek sosial dan budaya, yang
pada akhirnya tertanam dalam individu, institusi dan states. Pada konteks ini,
Wiharso dan Smart menjelajahi kompleksitas dari hubungan personal (terdiri dari
tanggapan/tindakan/reaksi/interaksi), praktek kreatif dan tingkatan sosial juga
aksi artistik. Menjelajahi hubungan konsep dan praktek formal mereka melalui
ide-ide dan gambaran identitasnya serta politiknya, dengan merepresentasikan
tubuh, organ dan dunia alamiah,
karya-karyanya melintasi tematik dan teknik.
Wiharso mengatakan, “Saya dan Sally berbagi bermacam ketertarikan dan sering
ide-ide yang khusus kerap muncul di dalam orientasi yang berbeda dalam karya
kami, seperti tubuh dan organ, perbatasan dan tepian, sejarah, kolonisasi,
dunia seni dan politik seni. Dan kami berdua menggunakan metodologi memotong
(cutting) sebagai aksi konseptual
(conceptual act) dalam praktik kesenian
kami.”
Karya dalam pameran ini
akan mengetengahkan kemiripan dan perbedaan dari praktik antara kedua seniman
yang mana kehidupan dan praktik keseniannya terefleksikan begitu mendalam pada persoalan sosial,
budaya, emosional, juga hubungan geografis dan sinergi. Conversation
menggemakan hubungan kedua seniman tersebut, dan hubungan mereka dengan
kelompok yang tua dan baru, organisasi dan institusi. Smart menekankan, “Ini
merupakan sebuah tindakan kepercayaan dan pertemanan, sebuah percakapan antara
kedua seniman, untuk menciptakan pameran yang berbicara melebihi kemampuan
kita.”
Sejak mendapatkan
perhatian dunia internasional setelah pameran untuk Indonesian Pavilion pada The 51st Venice
Biennale 2005, Venice, Italia, Wiharso telah menempatkan sebuah bahasa pribadi
yang kuat pada karyanya untuk mengekspresikan ide-idenya tentang identitas,
kebenaran sejarah dan narasi sosial. Dalam karya Wiharso, pengalaman pribadinya
kerap digunakan untuk menjelajahi kondisi sosial -politik negaranya, seperti kecintaan,
kebencian, fanatisme, agama, dan ideologi. Dalam karya utama seperti Chronic
Satanic Fences, 2010, sebuah karya monumental berupa pagar besi yang diperkuat
dengan umpak tradisional dari kayu seperti yang sering di pakai untuk kontruksi
rumah Joglo menjadi bagian dari voyeuristik
Impuls dimana Wiharso mempresentasikan figur yang menyeramkan dan
berbasis binatang dengan mencoba menjebol kolom besi; sebuah studi yang
menyatakan seberapa mendalam keinginan dan kekuatan moral yang terpeleset ke
fanatisme dan kecaman.
Sally Smart, salah satu
seniman kontemporer penting dari Australia, telah berkarya dengan melibatkan
identitas politik, ide yang berkaitan dengan tubuh, rumah dan sejarah. Dikenal
untuk karya instalasi dengan merakit, montase atau penggabungan yang besar
dengan teknik potong dan penggunaan
seni performance dan videonya, Smart memamerkan karyanya di berbagai belahan
dunia secara rutin. Dalam pameran Conversation, Smart sekali lagi akan
memamerkan The Exquisite Pirate, 2005-2010, yang dikembangkan sebagai sebuah
ide melalui berbagai iterasi global, dan menggambarkan bajak laut wanita
sebagai metafora terhadap isu global kontemporer seperti isu identitas pribadi
dan sosial, ketidakstabilan budaya, imigrasi dan hibriditas.
Salah satu karya seni
kontemporer Australia yang terbaru, The
Exquisite Pirate, mencerminkan simbolisme kapal dan relevansinya dengan wacana
pra-kolonial dan implikasi terhadap keadaan kini juga sejarah Australia. Juga karya barunya
yang akan dipamerkan merupakan respon saat tinggal di Black Goat Studios Yogyakarta
milik Entang wiharso.
Sebuah karya yang
monumental, Global Garden, 2015, merepresentasikan sebuah pertunjukan yang
digambarkan melalui gabungan potongan dan elemen fotografi juga komponen video,
menggabungkan seri terbarunya ‘The Choreography of Cutting.’ Instalasi
terbarunya, Jogja House/Daughter Architect, 2015, mencerminkan abstraksi dan
merepresentasikan detil rumah Indonesia / teras / taman / struktur, dirakit dan
dibangun dalam gambar dua dimensi, dan dihubungkan dengan ruang teater semacam
untuk pertunjukan atau panggung wayang. Penerima berbagai penghargaan, Smart
telah menjadi Sackler Fellow Artist-in-Residence di the Art and Art History
department of the University of Connecticut, mendapatkan penghargaan sebagai
dewan persahabatan di Australia, merupakan dewan senior di the School of Art,
VCA & MCM, Universitas Melbourne, dan mendapatkan penghargaan a major
public art commission, 2012 -2014, Shadow Trees, Buluk Park, Melbourne,
Australia.
Conversation: Endless
Acts in Human History diorganisir oleh Galeri Canna dengan kurator Suwarno
Wisetrotomo (IDN) dan co-kurator Natalie King (AUS). Katalog bewarna dengan
esai dan wawancara akan diterbitkan bersama dengan pameran.linda.





