Mentawai Raih Penghargaan dari Menteri Pertanian

Tertawalah selagi Gratis
video-shooting-dan-fotografi
Video Shooting & Fotografi
Mengabadikan Momen, Menceritakan Cerita — Solusi Profesional untuk Video Shooting & Fotografi Anda.
0813-1615-8974
Info Lengkap
Mentawai (Satu Nusantara)-Untuk  mewujudkan swasembada pangan, sehingga Mentawai terlepas dari ketergantungan pasokan pangan terutama beras dari daerah lain pada tahun 2018, sejak 2012 lalu Pemkab Mentawai melalui dinas Pertanian setempat terus meningkatkan perluasan cetak sawah tanam padi dan peningkatan sarana produksi. 

Target dan realisasi cetak sawah tanam padi serta peningkatan sarana produksi yang dimulai tahun 2012 itu telah menunjukan hasil yang menggembirakan. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan produksi padi dari tahun ke tahun, bahkan tahun 2015 ini Pemerintah melalui Kementrian Pertanian meng-anugrahkan penghargaan untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai, karena dinilai mampu meningkatkan produksi beras diatas 5 persen dari tahun sebelumnya.
Bupati Kepulauan Mentawai-Sumatera Barat, Yudas Sabaggalet mengatakan, pemberian penghargaan itu merupakan ujud apresiasi dan dukungan dari pemerintah pusat atas upaya yang dilakukan daerah yang dipimpinnya untuk menuju swasembada pangan, meski pada tahun tahun sebelumnya Mentawai tidak pernah mendapat bantuan dana pusat, dan murni menggunakan dana APBD untuk melakukan perluasan cetak sawah, namun ternyata Mentawai bisa.

“Upaya mewujudkan ketahanan pangan ini sudah kita mulai sejak tahun 2012 lalu, saya sengaja alihkan alokasi dana sebesar 2,5 Milyar yang semestinya untuk distribusi raskin, saya gunakan untuk membantu biaya cetak sawah,” Ujar Yudas usai menerima penghargaan dari Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman pada acara Gelar Pangan Nusantara di Padang, Selasa (15/09/2015).

Menurut Yudas, upaya yang dilakukan dengan menggunakan dana distribusi raskin tersebut semula menjadikan polemik, bahkan Mentawai dianggap menolak jatah beras raskin, namun Yudas menyebutkan tekat untuk mewujudkan ketahanan pangan itu memang telah menjadi programnya, dan harus tetap dijalankan, mengingat Mentawai juga mempunyai lahan yang pantas untuk diolah.

“Kita diminta untuk memandirikan pangan, tapi kenapa kita juga didrop raskin, untuk biaya distribusi raskin ini sangat tinggi, maka dalam pemikiran saya waktu itu kenapa tidak kita alihkan saja dana itu untuk membiayai masyarakat untuk cetak sawah, sehingga mereka bisa mandiri, dan inilah hasilnya,” tegasnya.
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Mentawai, Novriadi mengatakan, upaya peningkatan ketahanan pangan di Mentawai sudah dirintis mulai tahun 2012, dengan berbagai kendala yang ada diantaranya masalah tanah yang sebenarnya kurang cocok untuk bertanam padi, pasalnya tanah di hampir seluruh kepulauan Mentawai memiliki PH yang rendah, sehinga diperlukan campuran kapur untuk diolah sebagai lahan sawah. Di samping itu perlu pembinaan berkelanjutan melalui penyuluh pertanian dalam melakukan pembinaan terhadap petani yang belum memahami cara bertanam padi secara baik.

“Kita sudah mulai tahun 2012 lalu dengan berbagai macam kendala, dan tanpa adanya dukungan dana dari pusat, itu dari tahun 2012 sampai 2014, kita mulai cetak sawah dengan dana APBD, namun dapat kita buktikan sampai tahun 2015 ini baru kita dapat bantuan alat alat dan mesin pertanian, alsintan desa mandiri benih, dengan bantuan alsintan itulah kita wujudkan Mentawai mandiri pangan,” kata Novriadi.


Menurut Novriadi, produksi padi di Mentawai dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, bahkan pada tahun 2014 lalu produksi padi Mentawai mencapai 121 persen disbanding tahun 2013, dan tahun 2015 sampai bulan Agustus produksi beras Mentawai sudah bisa menyamai produksi di tahun 2014, bahkan dimungkinkan sampai Desember bisa bertambah 50 persen lagi.

“Produksi beras kita pada tahun 2013 sudah ada 1600 ton, dan tahun 2014 kemarin sudah meningkat menjadi 3600 ton, dari areal sawah rutin tanam seluas 1300 hektar,” kata dia.

Kata Novriadi, dari cetak sawah yang dilakukan sejak tahun 2012 sampai saat ini sudah mencapai 2000 ha, namun yang rutin ditanam hanya 1300 ha.
“Saya kira ini sudah cukup, hanya saja perlu ditingkatkan indek pertanaman dari 1 kali pertahun menjadi 2 kali, kemudian juga meningkatkan produksinya dari 4,2 menjadi 4,5 ton,” ujarnya.
Novriadi optimis target swasembada pangan pada tahun 2018 seperti yang dicanangkan Bupati Mentawai akan tercapai, pasalnya dari perkiraan produksi gabah kering panen dan beras bila dikaitkan dengan jumlah konsumsi beras pertahun untuk penduduk Mentawai dengan jumlah 86.964 jiwa maka rata-rata jumlah konsumsi beras pertahun mencapai 5.935, 62 ton per tahun. Untuk  memenuhi kebutuhan beras sebanyak 5.935,62 ton per tahun itu kata dia,  dibutuhkan lahan sawah kurang lebih 1.978, 54 hektar, sementara luas sawah sampai dengan tahun 2015 sudah mencapai 2000 ha.

“Memang dari 2000 hektar itu, yang rutin tanam baru 1300 hektar, namun kita tetap melakukan ekstensifikasi atau perluasan areal sawah, kemudian juga intensifikasi atau peningkatan produktifitas lahan melalui penggunaan benih unggul, penyediaan pupuk, pengendalian hama, penyediaan jaringan irigasi, penggunaan alat dan mesin pertanian, penyuluhan dan penguatan kelompok tani,” papar Novriadi.

 Gelar Pangan Nusantara 2015  yang diadakan di Lapangan Taramdam Padang dari 15-18 September 2015 dan dibuka langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman itu antara lain menggelar pameran pangan, worshop, takshow, basar, wisata edukasi dan aneka lomba, diikuti oleh seluruh badan, kantor dan instansi yang membawahi dan membina keanaka ragaman pangan, termasuk pelaku usaha dan BUMN.

Selain Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pemerintah melalui Kementrian Pertanian juga memberikan penghargaan kepada  Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Dharmasraya, Pesisir Selatan,  Kota Bukittinggi, dan Kota Solok. Kedelapan daerah ini dinilai mampu meningkatkan produksi beras di atas 5 persen pada tahun 2014. (Dio)


Konsultan HRD

Related

Lensa Nusantara 853511808990792

Post a Comment

emo-but-icon

item