Panglima TNI : Prajurit TNI Hindari Narkoba, Peka dan Waspada Radikalisme serta Terorisme
https://satunusantaranews.blogspot.com/2016/04/panglima-tni-prajurit-tni-hindari.html
Jakarta
(satunusantara) Ketika TNI mendapatkan apresiasi sebagai
lembaga paling dipercaya publik, memiliki nama yang harum, tiba-tiba dirusak
atau justru dihancurkan oleh beberapa oknum dengan kasus Narkoba. Ini tantangan
berat yang memerlukan keseriusan kita semua, agar TNI bersih dari Narkoba,
jangan sampai ada lagi satu pun Prajurit atau PNS TNI yang terlibat dalam
Narkoba dan sekaligus menekankan kepada segenap Prajurit dan PNS TNI untuk
senantiasa peka dan waspada terhadap aliran-aliran yang mengarah kepada
radikalisme dan terorisme.
Demikian amanat Panglima TNI Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo yang dibacakan Pa Sahli TK. III Bid. Sosbud HAM Panglima TNI Mayjen
TNI Joppy Onesimus Wayangkau bertindak sebagai
Inspektur Upacara (Irup) pada Upacara Bendera-17an di Lapangan Mabes
TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.
Lebih lanjut Panglima TNI
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, kepada unsur pimpinan satuan untuk
melindungi para Prajurit dan PNS-nya, serta kepada segenap Prajurit dan PNS
TNI, untuk melindungi diri dan keluarganya dari ancaman Narkoba. Pemerintah
telah mengeluarkan pernyataan perang terhadap Narkoba, karena Narkoba adalah
kejahatan luar biasa.
“Pemerintah dengan tegas
mengambil kebijakan ini, karena Narkoba telah merusak generasi muda bangsa,
dengan kerusakan 40-50 orang meninggal, 4,5 juta orang butuh rehabilitasi dan
1,2 juta orang sudah tidak bisa direhabilitasi. Karenanya, sungguh sangat hina
dan tercela apabila prajurit dan PNS TNI dan atau keluarganya terlibat dalam
persoalan Narkoba,” ujar Panglima TNI.
Pada aspek lain, Panglima
TNI mengingatkan sekaligus menekankan kepada segenap Prajurit dan PNS TNI untuk
senantiasa peka dan waspada terhadap aliran-aliran yang mengarah kepada
radikalisme dan terorisme. Berbagai kegiatan kelompok ideologi radikal juga
sedang marak. Munculnya atribut-atribut palu arit, bisa di sepatu, kaos, baju,
spanduk, atau lainnya, merupakan indikasi bertebarannya ideologi radikal yang patut
diwaspadai. Kemasan pagelaran kesenian bernuansa komunis dan sejenisnya, adalah
salah satu wujud nyata gerakan ideologi radikal yang harus kita cermati.
Begitu pula dengan aksi-aksi
terorisme, yang masih melakukan gerakan baik tersembunyi atau terbuka.
Memperhatikan masalah terorisme di Indonesia, walau kini terorisme merupakan
salah satu ancaman yang masih terkendali dan terjadi secara sporadis, namun
harus dinilai bahwa sekecil apapun aksi terorisme adalah gangguan terhadap rasa
aman masyarakat dan gangguan terhadap proses pembangunan nasional. Oleh karena
itu, diharapkan semua komponen bangsa harus memiliki rasa kepedulian, kepekaan,
kewaspadaan dan fokus pada upaya pencegahan, serta penanggulangan terorisme.
“Aparat intelijen mencatat,
adanya rekrutmen kelompok teroris yang menamakan diri ISIS, juga perlu
diwaspadai. Bangsa Indonesia, termasuk TNI telah menyatakan ISIS tidak boleh
hidup di Indonesia”, tegas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Di akhir amanatnya Panglima
TNI menyampaikan rasa syukur dalam kurun waktu terakhir ini pemerintah sungguh
telah memperhatikan dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kapabilitas TNI,
baik personel maupun materiil dan Alutsista, termasuk kesejahteraan prajurit.
Besarnya atensi pemerintah juga adalah tantangan yang harus dijawab, dengan
menunjukkan kinerja para prajurit dan PNS TNI yang harus terus meningkat, baik
dalam konteks tugas pokok, maupun dalam konteks tugas bantuan, guna percepatan
pembangunan nasional di daerah.
“Saya perintahkan kepada
unsur pimpinan di jajaran TNI dan segenap Prajurit dan PNS TNI, untuk menjaga
dan memelihara kebersamaan TNI-Polri, sebagai mitra utama dalam menangani
masalah keamanan, penanganan konflik sosial, penanggulangan terorisme dan
radikalisme, termasuk premanisme, yang mengganggu dan meresahkan masyarakat.
Pada sisi lain, bangun sinergitas dengan pemerintah daerah dan komponen terkait
lainnya di daerah, guna membantu percepatan pembangunan dan menyelesaikan
masalah kemiskinan, sesuai kemampuan dan batas kemampuan yang dimiliki,”
pungkas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.puspen/linda.



