Kodam Jaya Ziarah ke TMPN Kalibata dan Makam Pangeran Jayakarta
https://satunusantaranews.blogspot.com/2015/12/kodam-jaya-ziarah-ke-tmpn-kalibata-dan.html
Jakarta (satunusantara)
Salah
satu dari rangkaian kegiatan memperingati HUT Kodam Jaya yang ke 66 adalah
ziarah. Pangdam Jaya/Jayakarta Mayjen TNI Teddy Lhaksmana W.K menjadi pimpinan
rombongan penziarah dari pejabat distribusi A dan B Kodam Jaya beserta ibu-ibu
pengurus Persit KCK PD Jaya ke Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata,
Jaksel.
Kegiatan Ziarah yang
dilanjutkan dengan tabur bunga bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada
para pendahulu kita yang telah gugur sebagai Pahlawan Bangsa dan Negara
Indonesia.
Usai dari TMPN Kalibata,
rombongan ziarah Kodam Jaya menuju Makam Pangeran Jayakarta yang berada di
Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur dipimpin Kasdam Jaya Brigjen TNI Ibnu
Triwidodo.
Sesampainya di kompleks
Makam Pangeran Jayakarta, rombongan Kasdam Jaya disambut pengurus di Masjid
As-Salafiyah. Dalam kesempatan itu Kasdam Jaya mengucapakan terimakasih kepada
keluraga besar Jayakarta dan pengurus Masjid As-Salafiyah. Kasdam jaya juga
membacakan sambutan Pangdam Jaya yang berisi bahwa kedatangan rombongan Kodam
Jaya ke Makam Pangeran Jayakarta adalah untuk memberikan penghormatan kepada
Pangeran Jayakarta sebagai salah satu pejuang bangsa, sekaligus sebagai wujud
apresiasi keluarga besar Kodam Jaya kepada keluarga besar Ahli Waris Pangeran
Jayakarta.
Usai memberikan
sambutan, Kasdam Jaya dan rombongan diiringi pengurus melakukan ziarah dan
tabur bunga di Makam Pangeran Jayakarta dan makam lain yang ada disekitarnya.
Kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan pemberian bantuan dari Kodam
Jaya kepada Yayasan Yatim Piatu Darusalam dan Masjid As-Salafiah sebagai bentuk
penguatan spirit kejuangan warga Kodam Jaya. Pembacaan doa permohonan demi
kelancaran, keamanan dan kesusksesan Kodam Jaya
dalam melaksanakan tugas ke depan mengakhiri rangkaian kegiatan ziarah
dan tabur bunga di Makam Pangeran Jayakarta.
Sedikit Sejarah Pangeran
Jayakarta, Berdasarkan
berbagai literatur, sejarah mencatat kalau nama awal Jakarta diambil dari
Jayakarta, kata dengan makna kemenangan yang diucapkan Fatahillah usai
menaklukkan Sunda Kelapa dari tangan Portugis dan Kerajaan Hindu Padjajaran
pada 22 Juni tahun 1527, kemdian diperingati sebagai hari ulang tahun Jakarta.
Setelah ditaklukkan
Fatahillah, yang dikenal juga sebagai menantu Sunan Gunang Jati dan sebagai
Panglima Kesultanan Demak, kepemimpinan diwariskan Fatahillah kepada menantunya
Tubagus Angke, yang kemudian dilanjutkan oleh putranya Pangeran Sungerasa
Jayawikarta.
Usai Pangeran Sungerasa
Jayawikarta memimpin, tampuk kepemimpinan diserahkan pada Pangeran Achmed
Djaketra yang merupakan putranya. Dibawah kepemimpinan Pangeran Achmad
Djaketra, Jakarta maju dan tumbuh dengan sangat pesat. Hal tersebut membuat
serikat dagang VOC milik Belanda tertarik dan berkeinginan merebut Kota
Jakarta. Akhirnya Belanda berselisih dengan Pangeran Jayakarta pada tahun
1616-1619.
Sempat terpukul mundur,
Belanda dibawah komando Jan Pieterszoon Coen kembali melawan pasukan Jayakarta
dan Banten yang berakhir dengan mundurnya Pangeran Jayakarta ke daerah
Jatinegara. Jayakarta diduduki oleh Belanda pada 12 Maret 1619, sekaligus
mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia.
Menelusuri jejaknya,
makam Pangeran Achmed Djaketra di Jl Jatinegara Kaum No. 49, Pulo Gadung, di
sana tampak lima nisan batu yang berada pada sebuah pendopo tepat di samping
Masjid Jami As-Salafiyah yang juga dibangun oleh Pangeran Achmad Djaketra.
Makam Pangeran Achmad Djaketra ada di sisi kiri, dan tampak pula empat makam
lainnya yang diketahui memiliki hubungan kekerabatan. Antara lain Pangeran
Lahut yang merupakan putra Pangeran Achmad Djaketra, Pangeran Soeria bin
Pangeran Padmanegara serta pasangan suami istri Pangeran Sageri dan Ratu
Rupiah.
Karomah Pangeran Achmad
Djaketra sebagai salah satu keturunan Sunan Gunung Jati memang dianggap sakral
oleh para peziarah. Selain berkarisma, Pangeran Achmad Djaketra juga terkenal
lihai dan sulit ditangkap oleh para penjajah Belanda saat itu. Fakta unik
lainnya, keberadaan makam tersebut baru terungkap pada tahun 1956, lebih dari
tiga abad sejak Pangeran Achmad Djaketra meninggal. Hal itu diketahui dari buku
wartawan senior pemerhati sejarah Alwi Shahab yang berjudul 'Betawi Queen of
The East.'
Dalam buku itu tertulis,
kalau Pangeran Achmad Djaketra meminta anak keturunannya untuk merahasiakan
identitas dan kuburannya kepada siapapun selama Belanda masih berkuasa.pendam/linda.






