Baca Puisi, Rizal Ramli Terkenang Masa SMP
https://satunusantaranews.blogspot.com/2015/12/baca-puisi-rizal-ramli-terkenang-masa.html
Jakarta
(satunusantara) Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli,
Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal marwan
Jafar, Menteri Perindustrian Saleh Husin serta beberapa politisi dan budayawan menggelar malam
baca puisi di gedung Serba Guna Nasional, acara ini merupakan refleksi
perjalanan sebagai bagian anak bangsa.
Usai membacakan puisi Rizal
mengatakan, dia teringat 40 tahun lalu saat di SMP, grogi dan panik kala
diminta membaca puisi. Lalu dia pun melantunkan penggalan puisi yang menurutnya
menarik dan dalam maknanya, “kita banyak kesedihan, airmata kita mengalir tapi
kita akan banjiri semuanya dengan airmata kita, kalian akan kami kepung dengan
air mata kami”.
Menurutnya, ini inisiatif
yang bagus, kita tidak biasa selalu rasional. Rasional manusia itu tidak seratus
persen digerakan oleh rasionalitas tapi juga oleh perasaan, oleh hati. Dan hati
itu hanya bisa diperhalus dengan musik atau lewat puisi yang membiat hati kita jadi halus. Usai membaca puisi dan
berbicara dengan para awak media, Rizal pun bergegas meninggalkan gedung
tersebut.
Sementara menurut
penyelenggara lewat rilisnya mengatakan, Pasang surut kehidupan kebangsaan,
memberikan pengaruh terhadap jalannya kehidupan nasional, indonesia pernah
merasakan masa-masa ‘pasang’ nasionalisme yang memberikan pengaruh kuat dalam
meneuhkan nilai-nilai Pancasila sebagai jatidiri bangsa.
Namun seiring bergulirnya
waktu, Indonesia juga mengalami masa-masa surut, ketika pokok-pokok pikiran
yang memaknai pancasila seakan timbul dan tenggelam dari kesadaran kolektif
bangsa.
Padahal, Pancasila bukan
saja menjadi dasar dan rujukan hidup bermasyarakat, tapi sejatinya tinggal
dalam kalbu sanubari yang mempengaruhi serta menyinari setiapp insan Indonesia untuk
bertindak. Di masa-masa kelam, dimana matrealisme melumat habis seluruh
nilai-nilai yang ada, seakan-akan Pancasila tergerus dan terpinggirkan dalam
nilai-nilai kehiduan masyarakat.
Untuk kembali memperkokoh
arus pemikiran yang terandung dalam Pancasila, dibutuhkan beragam kreasi yang
segar menghadirkan kembali rumusan dan sesnsi Pancasila yang terasa begitu pas
dalam kehiduan kemasyarakatan. Salah satunya melalui apresiasi seni yang
menjadi bahasa universal dalam mengekspresikan apa yang dirasakan dan harapan
yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. puisi merupakan salah satu sarana yang
tepat mengungkapkan semua itu.
Di bagian lain, ada adigium “bila
kebenaran dikotori lumpur politik, maka sejarah yang membersihkannya. Dan bila
politik yang sedianya suci itu menjadi kotor, maka puisi yang akan mencucinya”.
Dalam konteks ini, puisi juga bisa menjadi alternatif ekspresi, bahkan ketika
sudah banyak orang tak bisa lagi membedakan mana kebenaran dan manipulasi, mana
citra dan mana kesungguhan.
Puisi juga pantas hadir
ditengaj kodisi ketika sulit dipisahkan, antara dua jenis kegaduhan. Jenis pertama,
kegaduhan hitam yang dibikin para mafia dan antek asing yang selama ini
menyengsarakan rakyat. Kegaduhan ini disebar dengan membuat opini dan
pengalihan isu, agar manuver dan kegiatan mereka mengambil sumber daya alam Indonesia
tak terendus.
Kedua kegaduhan putih, yang
merupakan wujud Revolusi Mental. Kegaduhan jenis ini membawa perusahaan dengan
gebrakan yang menhentak dan mendobrak. Kegaduhan yang laksana halilintar di
siang bolong, yang mencabik-cabik jaringan sistem kekuasaan yang selama ini
dikendalikan oleh segelintir orang dan sudah berurat berakar.linda.





