Baca Puisi, Rizal Ramli Terkenang Masa SMP

Tertawalah selagi Gratis
video-shooting-dan-fotografi
Video Shooting & Fotografi
Mengabadikan Momen, Menceritakan Cerita — Solusi Profesional untuk Video Shooting & Fotografi Anda.
0813-1615-8974
Info Lengkap
Jakarta (satunusantara) Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal marwan Jafar, Menteri Perindustrian Saleh Husin serta beberapa politisi dan budayawan menggelar malam baca puisi di gedung Serba Guna Nasional, acara ini merupakan refleksi perjalanan sebagai bagian anak bangsa.

Usai membacakan puisi Rizal mengatakan, dia teringat 40 tahun lalu saat di SMP, grogi dan panik kala diminta membaca puisi. Lalu dia pun melantunkan penggalan puisi yang menurutnya menarik dan dalam maknanya, “kita banyak kesedihan, airmata kita mengalir tapi kita akan banjiri semuanya dengan airmata kita, kalian akan kami kepung dengan air mata kami”.

Menurutnya, ini inisiatif yang bagus, kita tidak biasa selalu rasional. Rasional manusia itu tidak seratus persen digerakan oleh rasionalitas tapi juga oleh perasaan, oleh hati. Dan hati itu hanya bisa diperhalus dengan musik atau lewat  puisi yang membiat hati kita jadi halus. Usai membaca puisi dan berbicara dengan para awak media, Rizal pun bergegas meninggalkan gedung tersebut.


Sementara menurut penyelenggara lewat rilisnya mengatakan, Pasang surut kehidupan kebangsaan, memberikan pengaruh terhadap jalannya kehidupan nasional, indonesia pernah merasakan masa-masa ‘pasang’ nasionalisme yang memberikan pengaruh kuat dalam meneuhkan nilai-nilai Pancasila sebagai jatidiri bangsa.

Namun seiring bergulirnya waktu, Indonesia juga mengalami masa-masa surut, ketika pokok-pokok pikiran yang memaknai pancasila seakan timbul dan tenggelam dari kesadaran kolektif bangsa.

Padahal, Pancasila bukan saja menjadi dasar dan rujukan hidup bermasyarakat, tapi sejatinya tinggal dalam kalbu sanubari yang mempengaruhi serta menyinari setiapp insan Indonesia untuk bertindak. Di masa-masa kelam, dimana matrealisme melumat habis seluruh nilai-nilai yang ada, seakan-akan Pancasila tergerus dan terpinggirkan dalam nilai-nilai kehiduan masyarakat.

Untuk kembali memperkokoh arus pemikiran yang terandung dalam Pancasila, dibutuhkan beragam kreasi yang segar menghadirkan kembali rumusan dan sesnsi Pancasila yang terasa begitu pas dalam kehiduan kemasyarakatan. Salah satunya melalui apresiasi seni yang menjadi bahasa universal dalam mengekspresikan apa yang dirasakan dan harapan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. puisi merupakan salah satu sarana yang tepat mengungkapkan semua itu.


Di bagian lain, ada adigium “bila kebenaran dikotori lumpur politik, maka sejarah yang membersihkannya. Dan bila politik yang sedianya suci itu menjadi kotor, maka puisi yang akan mencucinya”. Dalam konteks ini, puisi juga bisa menjadi alternatif ekspresi, bahkan ketika sudah banyak orang tak bisa lagi membedakan mana kebenaran dan manipulasi, mana citra dan mana kesungguhan.

Puisi juga pantas hadir ditengaj kodisi ketika sulit dipisahkan, antara dua jenis kegaduhan. Jenis pertama, kegaduhan hitam yang dibikin para mafia dan antek asing yang selama ini menyengsarakan rakyat. Kegaduhan ini disebar dengan membuat opini dan pengalihan isu, agar manuver dan kegiatan mereka mengambil sumber daya alam Indonesia tak terendus.


Kedua kegaduhan putih, yang merupakan wujud Revolusi Mental. Kegaduhan jenis ini membawa perusahaan dengan gebrakan yang menhentak dan mendobrak. Kegaduhan yang laksana halilintar di siang bolong, yang mencabik-cabik jaringan sistem kekuasaan yang selama ini dikendalikan oleh segelintir orang dan sudah berurat berakar.linda.

Konsultan HRD

Related

News 4957639878180531737

Post a Comment

emo-but-icon

item