Panglima TNI : Kekuatan TNI adalah Bersama Rakyat, Ulama dan Santri
https://satunusantaranews.blogspot.com/2015/10/panglima-tni-kekuatan-tni-adalah.html
Jakarta (Satunusantara) Kekuatan TNI yang
hakiki dan menjadi identitas jati diri TNI adalah bersama Rakyat, Ulama dan
Santri. Perjuangan
kemerdekaan Resolusi Jihad di Hari Pahlawan dan TNI memiliki hubungan historis
yang erat dan menentukan. Demikian dikatakan Panglima
TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dalam
sambutannya pada Peringatan Resolusi Jihad ke-70 yang diselenggarakan oleh PBNU
(Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), bertempat di Tugu Proklamasi, Menteng,
Jakarta.
Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo juga menyampaikan, sejarah mencatat bahwa peristiwa Resolusi Jihad
bersentuhan langsung dengan kedaulatan Republik Indonesia. Terdapat 4 peristiwa
penting yang saling mempengaruhi dan saling menguatkan, yaitu peristiwa tanggal
17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 5 Oktober hari
pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sekarang TNI, 22 Oktober sebagai hari
pencetusannya Resolusi Jihad NU dan 10 November pecahnya perang di Surabaya
yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan.
Pada kesempatan tersebut
Panglima TNI menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang tinggi terhadap
semangat dan motivasi yang ditunjukan para santri. Sebagai generasi muda
bangsa yang terus memelihara dan meneguhkan komitmennya terhadap perjuangan
para pahlawan serta kecintaannya pada tanah air, salah satunya diwujudkan pada
gerak jalan memperingati Resolusi Jihad yang menempuh jarak ratusan kilometer,
diawali dari Tugu Pahlawan di Surabaya dan sampai di Tugu Proklamasi di
Jakarta.
“Untuk mengingatkan
generasi muda bahwa perjuangan bangsa sejak proklamasi kemerdekaan dilakukan
seluruh komponen bangsa termasuk para ulama. Setelah merdeka baru TNI lahir,
jadi yang merdekakan bangsa bukan TNI tetapi Bapak/Ibu kandung TNI, sehingga
TNI adalah anak kandung rakyat” kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Lebih lanjut Panglima TNI
mengatakan bahwa, hikmah dan pelajaran diperoleh peristiwa dari Resolusi Jihad
antara lain bahwa perjuangan melawan penjajah saat itu terkait Resolusi Jihad
yang dikumandangkan oleh Rais Akbar NU, K.H. Hazim Ashari. Bangsa penjajah
tidak rela Indonesia merdeka, sehingga berusaha untuk menguasai kembali tanah
air. Mereka membonceng sekutu untuk menguasai kembali Indonesia, namun
hal itu diketahui oleh para pejuang kemerdekaan dan ditindaklanjuti dengan
merapatkan barisan untuk menolak kedatangan kolonialis. Para santri
berkumpul di seluruh wilayah Jawa dan Madura,
mengatur langkah strategi perjuangan sebagai kewajiban mempertahankan tanah air
dan bangsanya. “Tanpa Resolusi Jihad, maka tidak ada perlawan yang heroik, jika
tidak ada perlawanan heroik berarti tidak ada Hari Pahlawan tanggal 10
November”, ujarnya.
Pada saat itu Presiden
Soekarno memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam kepada
K.H. Hazim Ashari, sehingga keluarlah sebuah Fatwa Jihad yang berisikan bahwa
perjuangan membela tanah air merupakan suatu Jihad Fisabilillah. Maka lahirlah
Resolusi Jihad Fisabilillah yaitu berperang menolak dan melawan penjajah adalah
Fardhu Ain yang harus dikerjakan oleh setiap orang Islam laki-laki, perempuan,
anak-anak bersenjata atau tidak bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km
dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada diluar dari
jarak lingkaran, kewajiban itu menjadi Fardu Qifayah, yang cukup dikerjakan
sebagian saja, untuk membantu perjuangan di wilayahnya.
Sebelum mengakhiri
sambutannya, Panglima TNI menegaskan, sejarah menggambarkan betapa ulama dan
santri merupakan sebuah guru perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ulama dan
santri bukan sekedar pejuang, tetapi sebagai pelaku perjuangan itu sendiri
terutama dalam konteks Resolusi Jihad dalam melawan penjajah. Kekuatan
TNI yang baru lahir beberapa bulan tidak akan sanggup melawan kekuatan sekutu
yang bersenjata saat itu, namun ditengah keterbatasan dan kemustahilan tersebut
TNI ternyata menemukan kekuatannya.puspen/linda.




